Shallom, Ya'ahowu, Selamat datang di THE NIAS (http://nias-site.blogspot.com)

Rabu, 24 Oktober 2012

Masuknya Injil di Kepulauan Nias


Masuknya Injil di Kepulauan Nias tidak terlepas dari titik tolak penginjilan sedunia, yaitu ”Amanat Agung Tuhan Yesus”. Dalam Matius 28:19–20,dikatakan Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.Dalam bahasa Li Niha: ”Mi’ae’e,  mibali’ö nifaha’ö fefu soi, wamayagö idanö ya’ira ba döi Nama ba ba döi Nono ba ba döi Geheha Ni’amoni’ö.”


Pada umumnya, kita harus akui secara jujur bahwa masuknya Injil yang melahirkan gereja-gereja Kristen Protestan di Indonesia berboncengan dengan misi kolonial Belanda (VOC) sekitar abad ke-16.
Demikian halnya di Pulau Nias dan pulau-pulau sekitarnya sebagai salah satu daerah kepulauan di tepi barat Pulau Sumatera yang menyimpan berbagai potensi yang terpendam dan terabaikan selama ratusan tahun sebelum Injil masuk, dapat dicatat bahwa masuknya Injil yang melahirkan gereja-gereja Kristen Protestan di Kepulauan Nias dibawa oleh lembaga misi dari Jerman, yaitu: Rhenische Mission Gesellschaft (RMG) yang saat ini dikenal dengan nama Vereinte Evangelische Mission” (VEM), dalam bahasa Inggris United Evangelical Mission (UEM)  dan badan misi dari Belanda, yaitu: Amsterdamer Lutherische Mission yang keduanya  berbonceng dengan VOC atau paling tidak diberi kemudahan-kemudahan oleh kolonial Belanda saat itu, untuk memberitakan Injil Keselamatan di kepulauan Nias.

Satu nama yang patut dicatat dan tak pernah bisa dilupakan, sebagai orang pertama yang pembawa berita Injil di kepulauan Nias, ia tiba di Gunungsitoli pada tanggal 27 September 1865, yaitu E.L. Denninger. Menurut sejarah bahwa E.L. Denninger awalnya ia diutus oleh badan misi dari Jerman untuk memberitakan Injil di Kalimantan, tetapi karena terjadinya perang suku di Kalimanatan  mengakibatkan terancamnya pula hidup para misionaris, termasuk E.L.Denninger, ia memutuskan untuk pindah ke Padang. Di Padang E.L. Denninger bertemu dengan orang-orang Nias, ia belajar bahasa dan budaya Nias. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke Pulau Nias.

Dapat dicatat bahwa Injil keselamatan yang dibawa oleh E.L. Denninger menghasilkan buah. Masyarakat Nias yang sebelumnya menganut kepercayaan pribumi yang dikenal dengan ”pelebegu”, yaitu penyembahan berhala yang berwujud pada kepercayaan terhadap dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang, secara bertahap mulai percaya pada berita Injil, mereka menerima Yesus Kristus Juru Selamat dan penebus dosa umat manusia (Kisah Para Rasul 4:12), lalu mereka memberi diri dibaptis.

Karena respons positif masyarakat Nias terhadap berita Injil, E.L. Denninger melaporkan hal tersebut di Jerman dan meminta agar RMG mengutus missonaris lainnya untuk membantu ”penuaian” di kepulauan Nias. Beberapa stasiun misi didirikan, misalnya di Telukdalam dimulai tahun 1886 oleh J.W. Thomas, di Pulau Tello dibuka oleh P.J. Kersten dari Belanda tahun 1889, di Hinako dibuka oleh W. Hoffmann tahun 1899, di Sirombu dibuka oleh A. Pilgenroder tahun 1902, di Lawelu dibuka oleh H.Lagemann tahun 1919, di Lahewa dibuka oleh D. Babfeld tahun 1925 dan lain-lain.

Dari semua hasil penginjilan yang dilakukan lahirlah denominasi Gereja BNKP dan dari BNKP lahir pula denominasi yang lain, seperti AFY, ONKP, AMIN, BKPN dan GNKP-Indonesia serta lainnya.
Tidak mudah menerobos kepercayaan lama dan budaya Nias yang begitu ketat dengan strata sosialnya. Namun, karena kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8) dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para misionaris telah mampu membawa Injil ke pintu hati masyarakat Kepulaun Nias sehingga sampai saat ini Kekristenan menduduki posisi sekitar 97 persen.

oleh :  Pdt. Foluaha Bidaya, S.Th, M.Div
sumber : http://www.nias-bangkit.com/2011/09/perjalanan-injil-di-nias-dan-kondisi-terkini/

1 komentar: